Minggu, 06 September 2015

Puthu Lanang, Celaket, Kota Malang Favorit sejak 1935

Dulu, sang ibu (alm) Soepijah membuka warung Puthu Lanang pada tahun 1935 di pinggir jalan setapak. Yakni di Jl Jaksa Agung Suprapto Gang Buntu, Celaket, Kota Malang. Warung yang pernah jadi jujukan tentara Jepang ini dikelola penuh oleh anak keduanya, Siswojo, 49. Kini, seribu porsi puthu lanang ludes setiap hari.
Sebelum mengelola bisnis jajanan tradisional puthu lanang ini, Siswojo, bapak dua orang anak ini berprofesi sebagai developer property. Namun, panggilan hati dan rasa ingin melestarikan kuliner jadul (zaman dulu) ini yang membuat Siswojo memutuskan untuk terjun penuh dalam mengelola bisnis warisan orang tuanya ini.
”Ternyata, saya merasa lebih tenang dengan mengelola bisnis ini dan tidak pernah membayangkan bisa setenang ini,” ujar Siswojo yang sudah 20 tahun mengelola warung ini. Sis mengakui sejak didapuk untuk meneruskan bisnis keluarga ini bukan malah senang dengan amanat yang diberikan ibundanya. Justru menurutnya beban. Sebab, tantangan yang dihadapi cukup besar. Yakni, mempertahankan nama besar dari usaha kuliner yang dirintis oleh ibunya, yaitu dengan menjaga mutu dan rasanya.
Apalagi ada anggapan jika usaha kuliner diteruskan oleh generasi kedua, maka rasanya tidak akan seenak generasi pertama. Nah, Siswojo ingin menepis anggapan itu. ”Kalau generasi berikutnya mengelola dan justru mundur, itu namanya kurang ajar. Alhamdulillah sejak saya kelola kenaikan pelanggannya mencapai seratus persen,” tegasnya.
Sis berkisah, dulu ketika ibunya mendirikan usaha ini pada tahun 1935, jalan di depan lokasi hanya berupa jalan setapak saja. Selain itu, beberapa pengunjungnya juga masih tentara Belanda. Setelah Jepang menang atas Belanda, kuliner ini juga digemari oleh tentara Jepang. ”Memang waktu itu kata ibu saya, ketika berjualan masih banyak tentara yang lewat di depan warung,” terangnya.
Jajanan pasar ini, dulu disebut Puthu Celaket saja. Sebab, lokasinya ada di sekitar Jl Jaksa Agung Suprapto atau yang lebih dikenal dengan nama Celaket. Namun, karena ada beberapa orang yang ’nunut populer’ dengan menggunakan nama Puthu Celaket dan mengatasnamakan sebagai cabang.
Sejak awal berdiri, kuliner legendaris ini sudah mampu memikat lidah ribuan bahkan jutaan pelanggannya. Dalam sehari saja, sekitar 1.000 porsi puthu, lupis, kelepon, dan cenil mampu terjual. Jika dilihat dari jalan besar, lokasi kuliner legendaris ini tidak begitu kentara. Sebab, letaknya agak masuk ke dalam mulut gang.
Kendati tidak begitu terlihat dari luar gang, tapi nama kuliner ini sangat terkenal. Bahkan, jika bertanya kepada para tukang becak saja, dengan mudah para abang becak yang ada di sekitar lokasi akan menunjukkan venue-nya.
Hampir setiap sore hingga malam hari, kuliner yang sudah ada sejak sebelum zaman kemerdekaan ini selalu dipadati pembeli. Bahkan tidak sedikit yang rela antre untuk mendapatkan seporsi cenil, lupis, kelepon,
dan tentu saja puthu ini. Harga untuk seporsi jajanan khas pasar ini cukup terjangkau, yakni Rp 10 ribu per 10 bijinya.
puthucelaket-lapsusAkhirnya pada tahun 2000 lalu, Siswojo mengganti nama kuliner ini dengan Puthu Lanang. Alasannya cukup lucu. Sebab, ada jajan pasar dengan nama puthu ayu, sehingga Siswojo  membuat ’tandingannya’ dengan memakai nama Puthu Lanang. Selain itu, pada saat nama itu dikukuhkan, seluruh cucu dari pendiri, (alm) Soepijah adalah laki-laki. Jadi, nama Puthu Lanang bisa diartikan sebagai putu lanang alias cucu lelaki. ”Kalau kami membuat nama puthu ganteng untuk menandingi puthu ayu, itu namanya narsis dong,” kata laki-laki yang akrab disapa Sis ini sembari tergelak.
rate bintang 4
Kini Sis berupaya menjaga agar nama Puthu Lanang tidak lagi dipakai orang untuk mendompleng ketenaran, pada tahun yang sama yakni 2000, nama ini sudah dipatenkan ke lembaga terkait. Sehingga tidak akan lagi ’ditiru’ orang dengan mengatasnamakan sebagai cabang dari Puthu Celaket. ”Untuk mematenkan nama dagang ini, saya dibantu oleh salah satu pelanggan. Namun sayang, saya lupa namanya,” terangnya. 

Warung Sate Kelinci Kota Batu yang Digandrungi Wisatawan

Banyaknya peternak kelinci yang menginspirasi Imam Syafi’i membuka Warung Sate Kelinci di Jl Patimura, Kota Batu. Karena sayang hanya untuk suvenir saja, maka Imam mempunyai ide untuk membuat sate kelinci. Ternyata, usahanya tidak sia-sia, hingga kini warungnya menjadi jujugan para wisatawan. 
Sudah 15 tahun, Warung Sate Kelinci berdiri di Jalan Pattimura, Kota Batu. Awal mula munculnya sate kelinci di Malang Raya juga berawal dari warung ini. Menurut Imam Syafi’i, pemilik Warung Sate Kelinci, dulu kelinci yang ada di Batu dijual pada saat berusia harian atau bahkan mingguan. Kelinci-kelinci ini menjadi suvenir wisatawan yang hendak meninggalkan Kota Batu. ”Sudah bisa ditebak kalau anak kelinci yang dijual itu akan mati dalam hitungan hari. Karena umumnya mereka belum bisa dipisah dari induknya. Kelinci yang masih kecil kan harus nyusu induknya,” katanya.
Dari situ Imam dan keluarga besarnya mengumpulkan modal mendirikan Warung Sate Kelinci. Apalagi bisnis kuliner bukan kali pertama digeluti Imam dan keluarganya. Sebab, keluarganya juga memiliki warung sate (bukan sate kelinci) sejak 1988. ”Dari pengalaman bisnis kuliner itu kami kembangkan ke Warung Sate Kelinci. Awalnya, yasayang kalau kelinci mati masih kecil. Lebih baik peternaknya baru menjual kelinci saat usia potong yakni usia enam bulan,” kata Imam yang mengelola bisnis ini sejak awal berdiri.
Ternyata, daging kelinci memang cocok juga disate. Saat pertama warung ini dibuka akhir Desember tahun 1998 pelanggan yang datang langsung membeludak. ”Kami buat sate dengan bumbu kacang seperti biasa. Tapi, kami buat sajiannya lebih menarik yaitu di atas hot plate yang biasa digunakan untuk steak agar satenya tetap hangat,” kata pria humoris ini.
rate bintang 3

Pecel Klojen, Asli Kota Malang Digemari

Bisa dibilang Pecel Klojen yang berlokasi di dalam Pasar Klojen ini, pecel khas Malang. Sebab, pembuat resep bumbu pecelnya adalah orang asli Malang. Dia adalah Misnati, 90, warga Jl Cokroaminoto, Kota Malang. Karena sudah berusia senja, warung pecel nenek Misnati ini kini dikelola oleh anaknya Mudjiasri, 58.
Resep bumbu Pecel Klojen adalah racikan orisinal Misnati puluhan tahun yang lalu. Tidak seperti warung pecel legendaris kebanyakan, yang penjualnya berasal dari Tulungagung atau Kediri. Pecel legendaris yang satu ini peracik dan pendirinya justru orang Malang asli. ”Kami ini orang Malang asli, rumah saya di depan pasar ini. Hingga sekarang tetap setia di sini,” jelas Mudjiasri, anak kandung Misnati yang sudah mengelola pecel ini selama 40 tahun.
Sri, sapaan akrab Mudjiasri, mengatakan, mulai remaja dia sudah terbiasa untuk membantu ibunya berjualan di warung pecelnya di dalam pasar ini. Namun, saat itu kegiatan membantu ibunya tersebut dilakukan sepulang sekolah. ”Dari belajar membantu ibu di warung. Lama-lama sudah bisa menjalankan usaha kuliner ini sendiri,” kata dia.
Sejak awal berdiri pada 1975 hingga saat ini, warungnya tidak pernah berpindah. Baik Misnati dan Mudjiasri tetap konsisten untuk menjalankan usaha ini. Sebab, meski lokasinya di dalam pasar, tapi sudah banyak menjaring pelanggan sehingga sayang jika harus meninggalkan lokasi yang sudah banyak dikenal ini. ”Sudah banyak teman yang mengenal lokasi ini. Nanti jika pindah dari sini takutnya justru membingungkan para pelanggan,” ujarnya.
Perempuan berjilbab yang masih enerjik di usia senjanya ini mengatakan, lokasi yang masih konsisten hingga 40 tahun juga menjadi kunci untuk menarik pelanggan. Terlebih bagi pelanggan setia, mereka umumnya datang untuk bernostalgia. ”Kebanyakan yang dari Malang ketika merantau pulang selalu mampir ke sini. Warungnya juga bisa membuat orang kangen. Tidak hanya pecelnya saja,” kata dia.
kuliner pecel klojen
Ketika dia ditanya, kapan akan pensiun bergelut dengan bisnis legendarisnya ini, Sri berharap dia tetap bisa menjalankan warung ini. Kendati usianya tak lagi muda, nenek satu cucu ini berharap tetap diberi kesehatan agar Pecel Klojen tetap eksis. ”Janganlah, saya inginnya tetap bisa melayani para pembeli dan pecinta kuliner ini,” paparnya.
Bagi Sri, warung ini sudah seperti rumah keduanya. Di tempat ini, dia tidak hanya mencari nafkah saja melainkan juga menjalin relasi dengan banyak orang. Tak heran, ketika 11 hari mulai pertengahan Februari lalu tidak berjualan, banyak pelanggannya yang kangen dengan masakannya. Sri menjelaskan, pernah tutup selama 11 hari karena sang ibu sedang sakit. ”Tutup lama-lama juga kasihan pelanggan saya. Tapi tidak apa-apa lah, bagaimana lagi, merawat orang tua itu adalah kewajiban anak. Rezeki sudah ada yang mengatur,” papar dia.
Lokasi Pecel Klojen juga tidak berubah mulai dulu hingga sekarang. Di Pasar Klojen, pembeli harus masuk ke dalam Pasar Klojen dulu. Namun, jangan dibayangkan menuju ke venue kuliner ini akan membingungkan. Sebab, dari pintu masuk pasar, pengunjung tinggal belok ke kanan sedikit dan bisa langsung menjumpai warung yang tidak ada tendanya sama sekali, juga tidak ada papan nama penunjuk.
Walaupun tidak ada papan atau nama warung, namun tidak akan tersesat. Sebab, para pedagang di pasar tersebut akan dengan ramah menunjukkan lokasi pecel ini. Warungnya juga bersih dan di samping lapak Sri, pelanggan dapat dengan mudah menemukan tumpukan daun pisang.
Karena bentuk fisik warung yang tidak memiliki tenda atau kain penutup, para pengunjung pasar dapat dengan leluasa menyaksikan kecepatan tangan dari Sri saat melayani setiap pembelinya. Ya, Mudjiasri atau yang lebih akrab disapa Sri ini adalah pengelola dari warung yang sudah berusia 40 tahun itu. ”Warung ini dulunya milik ibu saya, Misnati, 90,” kisah Sri sambil tangannya tetap cekatan dalam melayani pembeli.
Warung pecel ini setiap hari tidak pernah sepi dari  pembeli. Penggemarnya pun beragam, mulai dari rakyat biasa, pengusaha, hingga pejabat setingkat wakil bupati, wali kota, hingga gubernur.rate bintang 3,4

Sate Kambing Bunul Haji Paino

Sate merupakan salah satu makanan khas Indonesia. Di Malang ada banyak warung sate yang sudah familiar di telinga Anda. Salah satunya adalah sate kambing Haji Paino yang berada di Bunul. Kini, di tangan generasi kedua, Daryanto (anak kedua almarhum H Paino), warung sate ini semakin berkibar.
***
Warung sate kambing yang berlokasi di Jl Hamid Rusdi Timur 315 Kelurahan Bunul Rejo, Blimbing ini tidak pernah sepi. Setiap hari pelanggan datang silih berganti di warung yang memiliki halaman parkir yang tidak begitu luas ini. Tidak jarang para pelanggan harus parkir jauh dari warung agar bisa singgah untuk mencicipi menu olahan daging kambingnya.
Kondisi tersebut sudah terjadi sejak tahun 1973. Saat itu, almarhum Paino masih bujang dan membuka usaha sate kambing bersama dua orang yang masih kerabatnya, yakni (alm) Sampuri dan (alm) Kusnan. Uang yang berhasil dikumpulkan digunakan untuk modal membuka warung sate di Jl Kaliurang Kota Malang.
Usaha yang mereka bangun pun berkembang pesat. Hingga pada 1974, Haji Paino mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi almrhumah Sulikah. Sejak saat itu, keduanya mulai mencari tempat untuk membuat usaha sendiri. Membangun bisnis kuliner sate kambing di Kota Malang.
Keinginan keduanya pun akhirnya terwujud pada 1975. Haji Paino menemukan tempat di Jl Hamid Rusdi Timur. Lokasinya masih sepi dan banyak ditumbuhi ilalang. Namun itu bukan menjadi penghalang Paino untuk membangun bisnis kuliner. ”Kalau Abah (Paino) bilang kepada saya, dulu warung ini sangat kotor. Banyak ilalang. Abah yang membersihkan untuk dibuat usaha,” kata Yanto panggilan akrab Daryanto.
Selain kawasan tersebut masih banyak ilalang dan kotor, air bersih pun juga sulit didapat. Untuk mendapatkan air bersih, (alm) Paino harus mengangkatnya dengan jerigen sejauh lebih dari 100 meter setiap hari. Kerja dan tekad keras itu semata-mata untuk membangun bisnis kuliner yang diimpikan keduanya sejak lama.
Usaha pun terus berkembang pesat. Hingga pada 1997, Yanto pun diminta ikut terjun langsung membantu orang tuanya. Mulai memeriksa kambing yang akan disembelih hingga ikut membantu berjualan. ”Saya mulai bantu orang tua karena banyak pesanan. Saat itu, saya sudah kuliah di UMM Fakultas Psikologi,” urai Yanto.
Sejak dipercaya ikut mengelola bisnis keluarga itu, Yanto pun semakin bersemangat. Ikut memberikan masukan kepada orang tua mengenai manajemen bisnis. Selain itu, juga membantu pemasaran. ”Waktu itu sebenarnya saya banyak bertugas di luar. Sebab, memang sudah dipercaya oleh Abah untuk mengurusi yang bagian luar-luar saja,” ungkap pria yang sudah memiliki tiga anak ini.
Karena sudah memiliki penghasilan sendiri, Yanto pun memutuskan menikah pada 2000. Ufanuraini, yang dipilih Yanto sebagai pendamping hidupnya. Sejak saat itu, Yanto dipersiapkan orang tuanya untuk meneruskan bisnis sate kambing. ”Puncaknya pada 2005, sehari kami bisa menyembelih hingga 35 ekor kambing. Dan saya yang ikut turun langsung mengelola bisnis ini,” beber Yanto.
Hingga 10 tahun, Yanto digembleng untuk dipersiapkan sebagai generasi kedua pengelola bisnis sate kambing Haji Paino. Dan pada 2010, Yanto pun sepenuhnya mengelola usaha tersebut.
satebunul-kulinerBanyak inovasi yang dilakukan Yanto. Mulai membenahi manajemen hingga menambah menunya. Dari yang hanya sate dan gulai kambing, berkembang ke menu lainnya. Di antaranya, krengsengan kambing; tong seng; sup iga kambing maupun gulai kakat. ”Krengsengan kikil yang banyak peminatnya. Resep itu dari istri saya,” urai Yanto.
Hingga kini, usaha sate kambing Haji Paino pun terus berkembang. Banyak pelanggan yang meminta buka cabang. Karena itu Yanto pun membuka cabang di Jl Raya Randu Agung  62–64, Singosari, Kabupaten Malang.
Dari dua warung sate kambing tersebut, Yanto pun setiap hari harus menyembelih sedikitnya 25 hingga 30 ekor kambing setiap harinya. Dan itu belum termasuk saat ada pesanan. ”Rata-rata, setiap hari antara 25–30 ekor kambing yang kami sembelih,” terang Yanto.
rate bintang 3,8

Lalapan Pak Yanto Simpang Mega Mendung

Awalnya hanya coba-coba mencari peruntungan usaha warung, ternyata usaha yang dirintis Yanto, 56, kini banyak pelanggannya. Berbekal keahlian istrinya (Alm) Sulastri yang pandai memasak, warung lalapan yang berlokasi di Jl Simpang Mega Mendung ini digemari karena sambalnya yang mantap.

Sebelum buka warung makan lalapan, Yanto merupakan seorang tukang bangunan. Setiap hari kerjanya di proyek pembangunan rumah maupun gedung. Sedangkan (Alm) Sulastri istrinya hanya ibu rumah tangga biasa.
Hanya saja, sejak kecil, (Alm) Sulastri di lingkungan keluarganya dikenal pandai memasak. Terlebih membuat sambal sebagai pendamping lauk hidangan makan keluarga. Berbekal keahlian membuat sambal itulah, Yanto pun mendorong istrinya untuk mencari peruntungan baru membuka warung makan.
Terlebih di sekitar rumah mereka, banyak mahasiswa Unmer Kota Malang yang kos. Peluang usaha itu pun coba dijajaki oleh Yanto dan (Alm) Sulastri. ”Saya gunakan rumah mertua yang memiliki dinding dari anyaman bambu. Tidak besar tetapi bisa menampung pembeli,” kata Yanto.
Melihat hari pertama berjualan banyak peminatnya, Yanto pun memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya yang lama. Dia pun mulai membantu istri berjualan di warung. Hingga tahun 1997, krisis pun mulai melanda Indonesia. Semua bahan baku mulai merangkak naik.
Warung makan di Jl Simpang Mega Mendung No 39 Kelurahan Pisang Candi, Kecamatan Sukun, Kota Malang, memang tampak sederhana. Hanya sebuah ruangan yang berisi enam meja panjang dari kayu berjajar di dalamnya. Di setiap meja terdapat kursi plastik yang disiapkan di samping meja.
Yang membedakan dengan warung lainnya adalah pengunjung yang datang. Mulai pukul 08.00 hingga pukul 17.00, kondisi warung tidak pernah sepi. Selalu saja ada yang datang silih berganti untuk menyantap menu yang tersedia.
Mulai ikan lele goreng, ayam goreng, dan tempe goreng. Tiga menu itulah yang dijual oleh pemilik warung sejak 1993. ”Menunya hanya tiga macam sejak tahun 1993. Semuanya jenis lalapan. Terus kami pertahankan hingga sekarang. Pelanggan juga banyak yang suka dengan sambal kami yang beda. Kata orang, lebih mantap dibandingkan warung lainnya,” kata Yanto, 56, pemilik warung Simpang Mega Mendung.
Khusus sambal di warung lalapan milik Yanto, memang diracik sendiri oleh (Alm) Sulastri istrinya. Kala itu, Sulastri memilih terasi Pacitan, alasannya cita rasanya lebih kuat. ”Hingga sekarang, kami tetap memakai terasi khas Pacitan untuk mempertahankan kualitas rasa sambal,” ujar dia.
Satu porsi lalapan yang dulunya seharga Rp 500 harus dinaikkan karena menyesuaikan harga bahan baku. Saat itulah warung pun mulai sepi. Namun, Yanto dan istrinya optimis warungnya akan terus berkembang. ”Saya dibantu oleh saudara di sini. Hingga sekarang masih tetap banyak pelanggannya yang datang,” jelas Yanto.
Walau terus berkembang, Yanto tidak memiliki niatan untuk mengembangkan usahanya. Tetap berjualan di tempat yang sama. Terlebih sejak tahun 2008, bangunan warung sudah diganti dengan bangunan baru. Tidak lagi berdinding anyaman bambu tetapi sudah dari tembok.
Para pelanggan pun juga sudah merasa nyaman. Walau terlihat sederhana, banyak pelanggan dari dalam maupun luar kota yang datang. ”Kalau sudah merasakan sambal di sini, pasti akan datang lagi,” urai Yanto.
Dulu omzet per harinya dari hanya Rp 300 ribu kini melonjak hingga Rp 1,6 juta per hari. Jumlah pengunjung selalu meningkat saat akhir pekan, begitu juga saat hari libur.
rate bintang 3.6

Pecel Mbok Djo Jl Kalimantan

Sejak tahun 1973, Pecel Mbok Djo Jl Kalimantan ini hingga kini tetap menjadi jujukan warga Malang hingga luar kota. Sempat berpindah tempat hingga tiga kali, tapi pelanggannya tetap setia. Bumbu pecel resep asli Mbok Djo alias Galia ini pernah dibawa hingga 10 kg ke istana negara.
Pecel Mbok Djo ini merupakan usaha yang dirintis oleh (alm) Djolowo dan istrinya (alm) Galia. Pasangan suami-istri ini dari Blitar, yang pada tahun 1970-an merantau ke Kota Malang. Saat merantau ke Kota Malang, sepasang pasutri ini tidak memiliki pekerjaan hingga mereka memutuskan untuk membuat usaha kuliner pecel berbumbu khas di Blitar.
Salah satu kerabat penerus usaha kuliner legendaris ini, Anton Sugiyono, 37, awalnya Galia alias Mbok Djo dan suaminya berdagang dengan cara nyuwun (membawa barang di atas kepala) barang dagangannya di kawasan jalan kepulauan. Sejak awal berjualan, penggemar dari usaha kuliner ini berasal dari warga di sekitar Lapangan Sampo Kota Malang.
Sekitar tahun lima tahun pada 1972 hingga 1977, pasangan ini menjajakan dagangan ini dengan cara keliling dengan barang dagangan disunggi (di atas kepala). Sekitar tahun 1977, mereka berdagang di sekitar Jalan Saparua, Kota Malang. Sudah tidak lagi berkeliling, tapi juga masih belum memiliki lapak secara permanen. Berjualan di lokasi ini dilakukan hingga tahun 1989. Mereka berdua memutuskan untuk berjualan secara permanen di lokasi yang sekarang dan tidak pernah berpindah tempat hingga kini.
Pada 2006 sempat buka cabang di kawasan Griya Shanta Soekarno-Hatta. Namun, terpaksa tutup pada tahun 2008 karena pemilik lahannya berencana untuk menjual lahan. Menantu dari Mbok Djo atau penerus generasi kedua, Solikhah, 42, yang merupakan istri dari anak pendiri, H Marzuki mengatakan pada awal berdiri, Pecel Mbok Djo ini hanya beroperasi pada Rabu, Sabtu, dan Minggu saja.
Di luar hari itu, tidak berjualan. Alasannya, karena tenaga dua orang saja tidak mencukupi jika harus berjualan setiap hari. Akhirnya, pada tahun 2001, pecel ini bisa beroperasi setiap hari. ”Sejak saya yang mengambil alih, buka setiap hari. KarenaAlhamdulillah tenaganya mencukupi,” ujar Anton.
Sekarang usaha kuliner ini buka setiap hari kecuali Senin. Mulai dari pukul 05.30 hingga pukul 13.00. Pecel nikmat ini tidak pernah surut dari pengunjung. Bahkan, ketika sudah bukan jam sarapan pagi. Dulu berdiri hingga sekarang sudah eksis dengan membuka cabang di kawasan Sawojajar, penyajian pecel ini tetap menggunakan daun pisang yang dipincuk. Padahal, jika ingin praktis bisa dengan menggunakan kertas minyak saja. Namun rupanya, penyajian dengan daun pisang pincuk ini merupakan wasiat dari Mbok Djo. Sehingga penerusnya tetap menggunakan daun pisang. ”Karena sudah menjadi ciri khas dari warung ini. Jadi, kami tetap konsisten menggunakannya,” imbuhnya.
Sementara itu, Anton mengatakan, meskipun daun pisang susah didapatkan di pasaran karena musim kemarau, warung ini tetap menggunakan daun pisang. Bahkan, sampai harus mencari sendiri hingga ke daerah Wonokoyo, Kecamatan Kedungkandang. ”Kami meminta bantuan dari para kerabat, agar penyajian dengan daun pisang ini tetap terjaga meskipun ketersediaan daun sangat terbatas,” ujarnya.

rate 4

Rawon Rampal

Sejak pertama didirikan Mbah Syari’ah (alm) pada 1957 hingga kini dipegang oleh cucunya Ninik Wahyuni, Rawon Rampal dimasak pakai tungku berbahan bakar arang. Inilah yang membuat aroma rawon ini jauh lebih sedap. Urusan resep rawon, Ninik pun tak berani mengubah sedikit pun.  
Berkat konsisten dengan mempertahankan proses memasak cara jadul (jaman dulu), bisnis kuliner ini tak pernah mengalami fase susah selama 56 tahun silam. Dulu, almarhum Mbah Syari’ah jualan nasi rawon pada 1957 langsung laris. Lalu, usahanya diteruskan anaknya bernama Suprihatin. Dan saat ini, dilanjutkan oleh anak Suprihatin, Ninik Wahyuni. ”Saat ini, ibu tetap bantu-bantu di dapur,” ujar Ninik Wahyuni, 37, generasi ketiga penerus depot rawon yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman (daerah Rampal), Kota Malang, belum lama ini.
”Sejak pertama buka hingga sekarang masaknya menggunakan tungku dan arang. Sehingga, rasa dan aromanya berbeda. Ada bau asap yang khas yang bisa membikin rawon ini makin sedap. Ya, berbeda memang jika dimasak dengan kompor elpiji,” jelas Ninik.
Ninik mengatakan, pada tahun 50-an memang mayoritas penjual makanan di Malang masih menggunakan arang. Tapi sekarang, bisa dihitung dengan jari tempat kuliner yang mempertahankan proses memasak seperti itu. Hanya saja Ninik paham betul kalau memasak dengan tungku membuat hasil masakan lebih gurih dan sedap. ”Kami berusaha konsisten mempertahankan semua yang dilakukan nenek dulu, biar nggak ada yang berubah,” beber wanita berjilbab ini.
kuliner rawon rampal
Ninik menyadari kalau semua orang bisa dengan mudah memasak rawon. Namun, tidak semuanya mau menggunakan tungku dan arang. Sebab, itu akan menjadikan memasak lebih ribet. Selain lebih lama, asap dari arang juga lebih banyak ketimbang masak dengan minyak tanah atau gas elpiji. ”Karena kami sudah lama masak pakai tungku, ya sekarang sudah terbiasa,” tegas ibu dua anak ini.
Selain proses memasak, masih ada ciri khas Rawon Rampal lain. Penampilan rawon di tempat ini lebih pekat tanpa lemak. Hanya ada kuah dan daging sapi dengan potongan cukup tebal tapi empuk. ”Satu panci kami campurkan dengan satu kilogram bumbu. Itu sudah hitungan yang pas sejak dulu, kami nggak berani mengubahnya sama sekali,” terang Ninik. Itu rahasia yang menjadikan kuah tersebut lebih pekat. Bumbu yang dimaksud adalah campuran keluak, kunyit, bawang putih, bawang merah, jahe, serai, lengkuas, dan jeruk purut.
Di depot ini, Ninik melayani pelanggan sejak pukul 07.00. Biasanya pukul 14.00 sudah habis. Dalam sehari dia menyediakan tiga panci besar rawon dan tiga panci besar soto daging. Karena selain rawon, soto daging juga jadi menu andalan. Semuanya dimasak dengan tungku, tetapi untuk menghangatkan, tetap menggunakan kompor dengan api kecil.
Begitu banyaknya pembeli yang datang ke warung tersebut. Tiap harinya Ninik harus berbelanja 10 kilogram daging sapi untuk rawon dan soto, ditambah 30 kilogram babat krawis serta 15 kilogram empal sebagai lauk tambahannya. Untuk menikmati rawon di tempat ini, satu porsinya Rp 25 ribu. Yang jelas, kenikmatannya memang sepadan dengan harganya.
Kalau bangunan depot, kata Ninik, sekarang memang sudah dibangun lebih bagus. Karena dulunya masih gedhek (anyaman bambu). Agar pengunjung lebih nyaman dan bisa menikmati makan ketika melihat warung yang bersih.
Dari depan, tempat kuliner ini sekilas seperti penginapan. Karena banyak mobil pembeli yang parkir di depannya hingga hampir menutupi depot. Tapi bagi yang sudah pernah mampir menikmati kuliner di sini, semua itu dinilai wajar karena rasa rawonnya bikin kangen.
”Alhamdulillah banyak pejabat yang berkunjung, bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan rombongannya. Kalau zamannya orde baru, yang sering mampir Pak Rudini, Moerdiono, Harmoko, dan masih banyak lagi,” kata Ninik bangga.
Selain para pejabat, sebenarnya banyak juga kalangan artis yang mampir. Di antaranya Ari Lasso, Nicky Tirta, dan yang paling sering adalah pakar kuliner Bondan Winarno. ”Kalau Pak Bondan, meski nggak syuting acara kuliner, kalau ke Malang ya mampir makan di sini,” ujar Ninik.

rate 4