Minggu, 06 September 2015

Depot Lumpia Semarang dan Cwi Mie Hok Lay Jl KH Ahmad Dahlan, Kota Malang

Jajanan khas China lumpia dan cwi mie ini sudah ada di Kota Malang sejak tahun 1946 hingga saat ini. Saat ini, usaha warisan turun-temurun ini dikelola Budiman Suryawidjaja, anak sulung dari (alm) Goentarom, sang ayah yang juga generasi kedua warung ini. 
Sejak mengelola bisnis warisan orang tua sekaligus kakeknya, Budiman Suryawidjaja tetap berkomitmen untuk tetap mempertahankan usaha kuliner yang telah dirintis oleh kakeknya ini. Tak tanggung-tanggung, Budiman bahkan memutuskan untuk pensiun dini pada empat tahun yang lalu, tepatnya di usianya yang ke-50. Waktu itu, dia menjabat sebagai manager operasional di salah satu perusahaan multinasional.
Padahal untuk pensiun dalam sebuah perusahaan, usia idealnya adalah 55 tahun. ”Karena saya memang ingin benar-benar konsentrasi dalam mengembangkan dan mempertahankan usaha kuliner ini,” terang dia saat ditemui di depotnya, belum lama ini.
kuliner lumpia dan cwi mie ahmad dahlan
Sebenarnya, kata Budiman, sang ayah Goentarom memiliki empat anak lainnya dan Budiman sebagai anak pertama. Ketiga adiknya tinggal di luar kota. Akhirnya ketika Goentarom meninggal, dia didapuk untuk meneruskan usaha kuliner ini. Alasannya, ketiga adiknya berdomisili di luar kota, meneruskan estafet usaha keluarga ini menjadi salah satu amanat dari ayahnya. ”Saya bertanggung jawab akan kelangsungan usaha yang dimulai dari nol ini. Bahkan, khawatir kuliner keluarga ini jika harus terhenti karena tidak ada yang meneruskan,” tuturnya.
Hingga saat ini, Budiman tetap dibantu ibundanya Elina Permata dalam mengelola dan mengembangkan depot lunpia dan cwi mie ini. Lewat tangan sang ibunda, Budiman berupaya mempertahankan resep lawas warisan kakek Tio Hoo Poo. Yakni, tetap menggunakan bahan ayam untuk isiannya. Setiap hari dia dan ibunya harus turun tangan dan sibuk berkutat di dapur. Tujuannya, agar masakan yang akan disajikan sesuai dengan pakem dari Hok Lay.
Rasanya tetap sama tidak berbeda dari kakeknya hingga sampai ke tangannya. ”Bukannya tidak percaya dengan karyawan. Namun, saya ingin memastikan bahwa aneka sajian kami taste-nya masih orisinal,” tegasnya.
Karena kesibukannya di dapur dan proses memasak yang tidak bisa lepas dari pantauannya dan sang ibu ini, membuat Budiman tidak bisa membuka cabang Hok Lay di daerah lain, baik di dalam kota atau di luar Kota Malang. Padahal, tawaran untuk kerja sama membuka gerai ini selalu datang. ”Kalau dipaksakan membuka cabang, saya takut nanti kualitas rasanya tidak sama. Jadi, lebih baik satu gerai saja, tapi kualitas rasa tetap terjaga,” tegasnya.
Penggemar lumpia dan cwi mie ini banyak yang sudah masuk usia lansia. Bahkan tidak jarang, pelanggan kakeknya ini datang dengan membawa anak cucu mereka untuk turut merasakan kelezatan lumpia dan cwi mie sekaligus bernostalgia. Ada cerita menarik mengenai pelanggan dari depot ini.
Budiman berkisah, banyak dari pelanggannya yang awalnya datang hanya sebagai sepasang muda-mudi yang sedang melakukan penjajakan cinta alias PDKT (pendekatan). Kemudian sering datang berdua ke tempat ini hingga mereka berdua pacaran, menikah hingga mempunyai anak bahkan bercucu.
Menurut Budiman, kejadian itu tidak hanya sekali satu dua kali, tapi juga bisa dikatakan sering sehingga tidak jarang banyak pasangan yang ingin bernostalgia kisah cintanya dengan mendatangi tempat ini. ”Memang biasanya pasangan yang datang ke Hok Lay ujung-ujungnya menikah,” terang Budiman.
Pelanggan yang dimiliki oleh Depot Lunpia Semarang dan Cwi Mie Hok Lay ini tidak terhitung, jumlahnya mencapai ribuan. Pelanggannya juga beraneka ragam. Mulai dari kalangan menteri era zaman Presiden Soeharto, artis-artis papan atas, hingga pakar kuliner gaek, William Wongso dan bule-bule dari luar negeri hingga keluarga pahlawan nasional, Bung Tomo. Namun, selalu ada cerita menarik di balik pelanggannya yang beraneka ragam. 
rate bintang 3,8

Soto Ayam Lamongan ’Lonceng’ Jl Kyai Tamin

Sudah eksis sejak tahun 1965, Soto Ayam Lamongan yang terletak di kawasan Lonceng Jl Kyai Tamin, Kota Malang ini masih menjadi primadona di kalangan pecintanya. Sejak pertama berdiri hingga sekarang tidak pernah berpindah tempat.
Warung Soto Ayam Lamongan Lonceng ini letaknya persis di sebelah barat pertigaan Lonceng, atau yang sekarang lebih dikenal dengan kawasan Kyai Tamin, Kota Malang. Disebut Soto Lonceng, karena memang tempatnya tidak jauh dari monumen lonceng atau jam kuno yang masih berdiri kokoh di pertigaan tersebut. Untuk menemukannya, juga tidak begitu susah. Karena letaknya di pinggir jalan besar kawasan Pasar Besar, Kota Malang.
Bangunannya juga masih sangat kuno. Bagian luar, dicat dengan warna biru terang. Untuk mengenali soto tersebut, hanya ada papan nama kayu dengan warna dasar putih dan ditulis dengan cat warna hitam. Tulisannya juga sederhana saja, tidak seperti papan nama jaman sekarang yang sangat atraktif dengan aneka model, layout, dan warna. Hanya tertulis Soto Ayam Lonceng saja. Sederhana sekali. Tidak hanya desain bangunan luarnya saja yang menunjukkan kelegendarisannya, namun juga interior desainnya pun mendukung suasana jadul dari warung adem ini. Yakni, masih menggunakan ubin khas zaman dulu yang berwarna krem dengan corak motif tertentu. Pada dindingnya juga masih menggunakan papan kayu yang terjaga keapikannya, masih dipelitur dengan mengkilap. Pada bagian atas pintu masuk juga masih ada izin dagang dari plakat kayu yang masih menggunakan ejaan lama.
kuliner soto ayam lonceng
Di bagian pojok-pojok ruangan, terdapat papan dengan model letter L yang difungsikan sebagai meja. Sementara untuk mejanya sendiri, ruangan tersebut hanya ada dua meja dengan ukuran sedang.
Sementara pada bagian pojok ruangan sebelah timur, terdapat semacam rombong berwarna cokelat mengkilap yang digunakan oleh pengelola Warung Soto Lamongan, Tasmiyadi, 45, yang merupakan cucu dari pendiri, (Alm) Abdul Manan untuk meladeni setiap pembeli yang menginginkan sotonya.
Laki-laki yang akrab disapa Yadi ini mengungkapkan, sejak tahun 1965, kakeknya yakni Abdul Manan yang merupakan orang Lamongan asli mulai berjualan soto di kawasan Pasar Besar. Namun, berjualannya masih menggunakan pikulan. Karena masih dipikul, cara berjualannya juga dikelilingkan dengan rute sekitar Pasar Besar, Lonceng hingga kawasan Jl Laksamana Martadinata. Akhirnya, sekitar tahun 1968, sudah resmi menempati warung yang sekarang berada di kawasan Jl Kyai Tamin ini. ”Dari pertama berdiri hingga sekarang tempatnya tidak berpindah,” terang Yadi, yang masih sibuk meladeni pembeli.
Sudah eksis sejak 47 tahun yang lalu, tidak membuat interior dari warung ini mengalami banyak perubahan. Justru, bangunan dan interior desainnya masih tetap dipertahankan. Terbukti dari sebagian perabotan jadul dan suasana yang ditawarkan semuanya masih mengandung unsur klasik. Mulai dari ubin, dinding, hingga plakat izin usaha. Menurut Yadi, mempertahankan keaslian bangunan merupakan permintaan dari kakeknya. ”Kakek memang meminta untuk tetap mempertahankan keaslian. Agar orang yang mampir tidak hanya nostalgia dengan menyantap masakannya, namun juga merasakan keaslian lokasinya,” tegasnya.
rate 4

Ketan Bubuk Kudusan

Kuliner legendaris yang satu ini sudah eksis sejak tahun 1970-an. Ya, Ketan Bubuk Kudusan hingga kini tetap mempertahankan cita rasa khasnya. Resep warisan orang tua menjadi andalan ketan yang berlokasi di Pasar Besar dan di Jl Pahlawan Trip, Kota Malang ini. Tak heran jika menu jadul ini tetap diburu para pecintanya.

Kuliner Ketan Bubuk Kudusan (KBK) yang ada di wilayah Jalan Ijen, lusa kemarin tampak lengang. Masih belum ada pembeli yang berbelanja di tempat usaha kuliner yang sederhana ini. Sederhana karena hanya ada satu motor yang disulap menjadi semacam rombong kecil, serta empat kursi plastik yang disediakan bagi pengunjung warung yang ada di pinggir Jalan Pahlawan Trip, Kota Malang. ”Kalau sudah agak siang begini, biasanya sudah mulai sepi,” terang Nurul Khotimah (41), penerus keempat usaha kuliner legendaris ini.
Usaha kuliner ini pada mulanya didirikan oleh ibu Khotimah, (alm) Supiyah pada tahun 1970. ”Usaha ini sudah ada bahkan sebelum saya lahir,” terang Khotimah. Setelah Supiyah meninggal dunia pada sekitar tahun 1990, barulah pengelolaan usaha kuliner yang berpusat di daerah Pasar Besar ini berjalan secara estafet.
kuliner ketan bubuk kudusan
Mula-mula dikelola oleh (Alm) Sri Utami yang merupakan kakak kandung dari Khotimah. Kemudian dijalankan oleh Samsul dan sejak tiga tahun lalu mulai dikelola oleh Khotimah. ”Selain saya, ada juga adik saya, Arif Budianto yang turut mengelola jualan ketan di daerah Kudusan,” terang dia.
Khotimah menceritakan, usaha kuliner ini memang dirintis ibunya sejak lama. Dari awal berdiri, sudah menempati salah satu gang di wilayah Kudusan atau Jalan Zaenal Arifin. ”Maka dari itu, namanya Ketan Kudusan,” terang dia.
Namun, ketika ada kebakaran besar yang melanda Pasar Besar sekitar tahun 1980-an, sebagian besar pedagang direlokasi di jalan sekitar Pasar Besar dan Kudusan. ”Walau tidak kena kebakaran, tapi ibu saya ikut pindah di kawasan belakang Altara. Tidak pernah berpindah lagi hingga sekarang,” beber dia.
Resep ketan yang dia gunakan juga merupakan resep asli warisan dari ibunya. Dalam memasak juga tidak pernah dia ubah metodenya. Menurut dia, ibunya memang memiliki keahlian memasak ketan. Keahlian tersebut juga diturunkan dari ibu dari Supiyah, alias nenek Khotimah. Sebab, neneknya dulu juga sudah berjualan ketan. ”Ini resep bisa dibilang warisan leluhur. Saya tidak tahu nama nenek. Karena ketika saya lahir, beliau sudah meninggal,” terang perempuan berkerudung ini.

Dari resep turun-temurun, hingga kini dia konsisten menjaga keaslian resep ini. ”Mulai cara masak dan bahan tetap asli, sama seperti yang diajarkan ibu saya,” imbuhnya. Karena ingin meningkatkan kuantitas dagangannya, sejak dua tahun lalu Khotimah berjualan di Jalan Pahlawan Trip. ”Yang di kawasan Pasar Besar juga tetap buka. Jadi, di Jl Pahlawan Trip, Kota Malang ini cabangnya,” terang dia.

rate 3,3

Soto Basket Jl Majapahit

Resep Soto Basket yang sudah berdiri sejak tahun 1951 ini sudah diwariskan secara turun temurun oleh pendirinya, (alm) H Sukron kepada keponakan almarhum keponakannnya, Abdul Rochman dan kedua anak Sukron, Sholeh dan Hj Khodijah. Keempat cabang warung  yang terletak di Pecinan, Cengger Ayam, Stasiun Kotabaru dan Jalan Majapahit ini tetap eksis hingga kini.
***
Lokasi dari usaha kuliner legendaris ini memang tidak berada di tepi jalan besar. Namun, dapat terlihat dengan mudah di Jalan Majapahit. Kendati agak masuk sedikit di muka gang yang berlokasi di depan kantor Balai Lingkungan Hidup (BLH), namun warung dengan bentuk letter L itu selalu ramai dikunjungi oleh pelanggan. Para pelanggan juga dengan mudah dapat menemukan warung sederhana ini. Karena ada papan penunjuk namanya.
Siang kemarin, warung sederhana ini tampak ramai. Sebab saat Jawa Pos Radar Malangdatang ke lokasi ini, memang sedang memasuki waktu makan siang. Sehingga tidak heran jika pelanggan terus mengalir tiada henti.
Rabu siang kemarin juga, penerus generasi ketiga usaha ini, Rachmad Ardiansyah (36) juga sudah mulai terlihat relaks setelah sibuk menyiapkan pesanan para pelanggannya.  ”Kalau jam makan siang memang lebih sibuk karena banyak pelanggan,” terang Rachmad.
Dia berkisah, usaha legendaris ini didirikan oleh alm kakeknya, H Sukron sekitar tahun 1951. Awal mula berdiri juga bukan di kawasan Jalan Majapahit . Melainkan di kawasan Jalan KH Agus Salim Kota Malang. Sebelum menjadi deretan pusat perbelanjaan, di lokasi itu dulunya ada lapangan basket. ”Dulu kakek jualan masih pikulan. Namun tidak keliling tapi berhenti di sekitar sana,” beber dia.
kuliner soto basket
Pada awal berdiri yang banyak menjadi pembelinya berasal dari para pemain basket. Sebelum pindah dari lokasi itu pada tahun 1960-an, karena lapangan basket tersebut alih fungsi, para pemain basket yang menjadi pelanggan setia mereka, memberikan nama Soto Basket pada usaha kuliner Sukron itu. ”Yang memberi nama ya pemain basket. Karena pada saat itu memang masih belum memiliki nama,” terang dia.
Alumni SMPN 10 Malang ini mengatakan, kendati sudah berpindah di berbagai macam tempat, mulai dari Kidul Dalem, Kebalen dan sekitaran lokasi Pasar Besar serta Alun-Alun Kota Malang, nama Soto Basket masih tetap digunakan. ”Karena orang sudah semakin mengenal nama Soto Basket. Sudah familiar,” terang dia.
Usaha kuliner ini sekarang sudah memiliki empat cabang. Yakni di Pecinan, Cengger Ayam, Stasiun Kotabaru dan Jalan Majapahit. Yang menjalankan bukan hanya anak kandung dari alm Sukron, namun juga keponakan seperti Abdul Rochman yang kini estafet usahanya diteruskan oleh Rachmad. Dan yang menjadikan kekuatan soto ini adalah resepnya yang khas. Resep ini hanya dimiliki keturunan H. Sukron sendiri. Mulai anak dan keponakan. Dan resep masakan soto ini tidak pernah dia ubah dari dulu sehingga rasanya begitu khas. ”Ayah sudah ikut kakek Sukron sejak kecil. Maka dari itu dia diberi kepercayaan untuk memiliki resep ini,” tandas dia.
rate bintang 4

Nasi Buk Madura gang semarang, Pasar Besar

Atas kemurahan hati seorang pelanggan yang beretnis Tionghoa, Yuk Ging Seng, pada tahun 1947, (alm) Nuriyah berjualan Nasi Buk khas Madura. Lokasinya di mulut gang Semarang. Kelezatan dari nasi buk bikinan dari (alm) Nuriyah ini memikat hati pelanggan sejak lama. Kini Warung Nasi Buk ini dikelola generasi ketiganya, yakni cucu Nuriyah yang bernama Mustain.
Warung yang berada di Jl Pasar Besar Gang Semarang, Kota Malang itu sejak awal berdiri pada 1947 silam sudah akrab disebut sebagai Warung Nasi Buk Gang Semarang. Suatu hari, seorang pelanggan setia, (alm) Yuk Ging Seng mengarahkan Nuriyah agar berjualan di mulut Gang Semarang. ”Yuk Ging Seng merasa kasihan karena setiap hari melihat Nuriyah berjalan kaki menjajakan dagangannya. Dulu jualannya di sekitar Pasar Besar saja. Kemudian oleh Pak Yuk Ging Seng diberi tempat di Gang Semarang itu. Karena kasihan dengan Bu Nuriyah,” ujar Suyono, kerabat Nuriyah yang sudah lama membantu di warung.
Karena mangkal di mulut Gang Semarang, maka dari itu tidak heran jika namanya adalah Nasi Buk Gang Semarang. Menurut penerus generasi ketiga alias cucu dari Nuriyah, Mustain, neneknya ini berjualan di Gang Semarang ini mulai dari tahun 1947 hingga tahun 1987. Selama 20 tahun tetap eksis berjualan di sana. ”Kemudian pindah ke warung sini (Jl Zaenal Arifin) karena tempat itu sudah dibeli oleh orang lain. Dulu hanya menempati saja tidak dikenakan biaya sewa,” beber Mustain, cucu (alm) Nuriyah.
Mustain berkisah, dulu neneknya hijrah ke Malang dari Bangkalan, Madura. Sebab, sekitar tahun 1941, daerah yang ditempati neneknya, Bajemen dibuat latihan berperan oleh Belanda. Akhirnya, neneknya dan keluarga  mengungsi ke wilayah Malang. Sebelum mengungsi di wilayah Malang, diceritakan oleh Mustain, neneknya ini sudah berjualan nasi buk di Bangkalan sana dan berjualan di Malang pada 1942. ”Resep yang didapatkan oleh nenek saya berasal dari ibunya atau buyut saya, Marlangen atau yang lebih dikenal dengan nama Hj Fatimah,” kata warga Kebalen ini.
Hingga kini, resep yang digunakan oleh Nasi Buk Gang Semarang ini bisa dikatakan tidak hanya berusia 73 tahun, tapi diprediksikan lebih dari 80 tahun. Sebab, sudah mulai diajarkan dan diturunkan mulai dari nenek buyutnya. Sebab, Mustain, cucu sang pendiri warung mengatakan, rasa yang nikmat ini adalah resep dari buyut yang diturunkan kepada neneknya. Lalu diturunkan lagi pada ibu Mustain yakni Siti Aisyah, sang generasi kedua. Akhirnya estafet kuliner legendaris ini diteruskan oleh Mustain. ”Tetap saya pertahankan hingga sekarang. Resep turunan dari buyut saya ini,” tandas dia. Bukan hanya Suyono, Mustain juga sangat piawai melayani pelanggan. Tangannya seolah-olah memiliki mata, setiap porsi dari nasi buk yang dipesan oleh pelanggannya, disajikan secara cepat dan tepat. Mulai dari memberikan nasi putih yang punel dan harum, sayur lodeh yang terdiri dari dua jenis sayur yakni rebung dan nangka muda alias tewel, serundeng kelapa, dendeng manis, kebuk kering, bali tahu, dan yang paling spesial, sambalnya yang nendang rasanya. Secara kilat, laki-laki berusia 64 tahun ini mampu menyajikan sepiring nasi buk campur yang tidak hanya nikmat. Namun, juga memiliki porsi yang banyak. Aktivitas itu biasa terlihat di Warung Nasi Buk Gang Semarang di Jalan Zaenal Arifin, Kota Malang.
Di sela-sela kegiatannya meracik sepiring nasi buk pesanan pelanggannya yang selalu mengalir. Suyono berkisah, bahwa dulu sekitar tahun 1942, Nuriyah sudah berjualan nasi buk. Namun bukan Nasi Buk Gang Semarang namanya. Sebab, masih belum menempati warung kecil di mulut gang sempit yang ada di sekitar wilayah Pasar Besar Malang ini. ”Dulu berjualannya dengan cara dijajakan berkeliling dengannyuwun (membawa barang di atas kepala). Selama sekitar 5 tahun nyuwun dagangan,” bebernya menggunakan logat Madura yang masih kental. 

Angsle Pak Solikin

Warung sederhana milik Solikin, 73, dengan gerobak dorong di Pasar Polehan, Blimbing, Kota Malang, menjadi pilihan utama bagi pecinta kuliner jajanan tradisional. Berdiri sejak 39 tahun silam, warung ini tak pernah sepi pengunjung. Angsle ini beraroma harum khas pandan karena masih memakai bahan bakar arang dan resep keluarga tetap dipertahankan.  
Tatanan Warung Pak Solikin sangat sederhana. Ada dua set bangku meja kursi dari kayu berukuran sekitar 1,5 meter yang tersedia di sana. Meja itu tampak penuh oleh pembeli angsle. Anak kedua dan ketujuh Solikin yakni Suraji, 48, dan Rudi Kurniawan, 34, tampak cekatan melayani seluruh pelanggan, baik yang ingin makan di warung maupun sekadar dibungkus untuk dinikmati di rumah masing-masing.
Beberapa pelanggan setia terlihat cukup akrab dengan pemilik warung. Mereka pun tak segan ikut bersenda gurau sembari menikmati sajian angsle maupun ronde. Hanya ada sedikit jarak tempat pembeli makan di warung dan penjual angsle. ”Ayah bilang, kami tak boleh mengecewakan pelanggan. Itu yang selalu kami pegang saat melayani pembeli,” jelas Rudi.
Suraji menuturkan, awal mulanya warung angsle ini buka karena tidak sengaja juga tidak ada rencana. Sebelum tahun 1976 silam, bapaknya tidak menjual angsle dan ronde. Saat itu, Solikin tengah menggeluti usaha reparasi sepeda dan rombengan di Jalan KH Ahmad Dahlan, Kudusan, Kota Malang.
Mengapa pindah? Dia menjelaskan kala itu ayahnya, Solikin mendapat tawaran dari tetangga bernama Kusmana (almarhum) untuk menggantikan rombong angsle sekaligus tempat berjualannya. ”Si pemilik saat itu sudah tua, sakit-sakitan, sementara anak-anaknya nggak ada yang mau meneruskan,” ujar Rudi.
Entah apa yang ada di benak Solikin kala itu, dia langsung mengiyakan tawaran tersebut dan dibelinya seharga Rp 125 pada tahun 1976. Sang ayah pun diberi resep angsle lengkap agar rasa asli angsle tidak berubah.
”Sejak itu, resep angsle dari Pak Kusmana tetap dipakai, pelanggan lama Pak Kusmana pun kala itu juga merasakan cita rasa angsle buatan ayah, sama. Bahkan, kata pelanggan jauh lebih enak. Hingga kini saya juga mendapatkan warisan resep angsle itu, dan saya tidak berani mengubahnya,” papar Suraji.
Awal membuka usaha tak semulus yang dibayangkan. Sementara, usaha bengkel reparasi sepeda onthel pun sudah ditinggalkan Solikin. Saat minggu-minggu awal, warung yang buka mulai pukul 18.30 hingga dini hari itu hanya mampu menjual 10 hingga 15 mangkuk angsle saja. Lalu, sisa angsle yang masih banyak sampai diberikan gratis ke para tetangga sekitar rumah.
Namun, Solikin pantang menyerah. Secara bertahap dia menekuni usaha warung angsle itu dengan sabar dan tawakal. Hingga akhirnya, angsle buatan Solikin dan sang istri mulai banyak dilirik pembeli, tidak hanya pelanggan lama penjual angsle sebelumnya. Dari semula hanya bermodal 3 hingga 5 biji kelapa seharinya, sekarang mampu menghabiskan lebih dari 10 biji kelapa. Atau sekitar 150 mangkuk angsle mampu dijualnya sekali buka. Harganya pun relatif murah yakni Rp 4 ribu. ”Dulu pertama kali buka hanya seharga Rp 15 saja per satu mangkuknya,” ujarnya.
rate bintang 3,2

Bakso Bakar Pak Man

Gara-gara mencium aroma sisa pentol bakso yang dibakar oleh karyawannya, Soeparman alias Pak Man punya ide menjual bakso bakar. Dulu, Pak Man berjualan bakso dengan gerobak sejak 1955 di Situbondo, lalu pindah ke Jember. Hingga kemudian dia menetap di Malang pada 1997 dan sukses hingga saat ini.
Soeparman mulai merintis usaha berjualan bakso sejak tahun 1955, di Situbondo. Pria yang akrab disapa Pak Man ini berjualan bakso biasa dengan gerobak dorong, karena dia seorang diri menjadi tulang punggung keluarganya. Hanya dengan modal seadanya, dia nekat membuka warung bakso.
Setelah mengalami jatuh bangun berjualan di daerah Situbondo, Soeparman akhirnya memindah usahanya ke daerah Jember pada tahun 1965. Dia mendorong dan menjual gerobak baksonya seorang diri. Lama berjualan di Jember, membuat Soeparman ingin menambah pengalamannya dalam berjualan bakso. Akhirnya, dia mulai usaha berjualan bakso di Malang sekitar tahun 1997. ”Saya ingat peristiwa itu. Waktu Presiden RI Habibie jalan-jalan ke Pasar Besar, saya bakar bakso,” ucapnya sambil bersemangat.Bakso-Bakar-Pak-Man
Pertama kali, Pak Man membuka warung di depan SMPN 2 Kota Malang Jl Prof M. Yamin. Usaha yang dirintisnya terus berjalan lancar, karena konsumen terbanyak adalah kalangan siswa SMP maupun warga sekitar. Hingga suatu hari ketika warung bakso miliknya sudah mulai tutup, karyawannya selalu membakar sampah sisa bakso yang tidak laku di hari itu. Kemudian Pak Man menghirup aroma harum bakso yang dibakar. ”Nah, dari situ saya kemudian punya ide untuk meracik dan menjual bakso bakar,” ujar pria berusia 80 tahun ini.
”Prinsip saya, kala itu ada atau tidak ada orang, bakso yang sudah dijual, tidak bisa dijual lagi meskipun tidak laku,” ucapnya tegas.
Sejak saat itulah, akhirnya Pak Man menjual bakso bakar hingga sekarang. Mulai dari penguasaan resep dan cara memasak, dia lakukan sendiri. ”Bumbu dan racikan saya sendiri yang buat. Saya sampai jarang tidur,” paparnya.
Meskipun tenaganya sudah tidak lagi mumpuni untuk meneruskan memasak, pria ini setiap harinya masih rela menjaga warung yang dimilikinya. ”Mulai dari pukul 09.00 hingga jam empat sore saya di sini. Setelah itu saya pulang, capek sudah tua,” ucapnya.
Warung ini perlahan-lahan mulai dikelola oleh salah satu penerusnya yaitu Didik Hariyanto. ”Anak saya hanya mengantar bakso dan menjaga warung saja, sesekali juga membantu memasak,” jelas Pak Man.
Selain masih berjualan bakso di depan SMPN 2, Pak Man juga membuka cabang di Jalan Diponegoro 19 A, Kota Malang. Khusus di Jalan Diponegoro 19 A Malang, warung buka mulai pukul 09.00 hingga 21.00. Setiap harinya, tanpa ada jeda libur, bakso bakar ini terus dipadati pengunjung. Apalagi ketika weekend datang dan musim liburan, puluhan mobil dan motor berjejer di warung mungil ini. Para pecinta bakso bakar bahkan rela mengantre dan berdesak- desakan demi menikmati lezatnya seporsi bakso bakar.
rate bintang 
3,3