Minggu, 06 September 2015

Pecel Kawi

pecel kawi
Berdiri sejak tahun 1975, Pecel Kawi ini bisa dibilang merupakan salah satu ikon Kuliner Legendaris yang ada di kota Malang. Pecel Kawi, dinamakan demikian karena rumah makan yang menjual menu utama nasi pecel ini terletak di Jalan Kawi.
Tepatnya yakni di Jalan Kawi Atas nomor 43B/46, Kota Malang. Apalagi, kualitas citarasa khas pecel yang sudah diwariskan secara turun temurun, telah banyak dikenal di saentaro Negeri ini. Bumbu khas pecel yang sangat gurih dan lezat menjadikan citarasa yang menarik.
bintang 3

Bakso Presiden

bakso president
Bakso President berawal dari kegigihan dan keuletan Bapak H. Abd. Ghoni Sugito. Beliau berjualan bakso sejak tahun1977, waktu itu masih menjadi penjual bakso pikul keliling yang bahannya diambil dari orang lain. Rekan-rekannya sesama penjual bakso keliling biasanya paling laris bisa mendapatkan Rp 3.500 dalam seharinya, tetapi Pak Sugito ini dapat menghasilkan sampai Rp 10.000. Itu karena bahan yang diambil dari juragannya dimodifikasi terlebih dahulu sehingga mendapatkan cita rasa yang istimewa. Akhirnya terkumpullah modal untuk mandiri.
Pada tahun 1980, beliau sudah memiliki 15 gerobak keliling. Usahanya semakin maju dan akhirnya dimulailah untuk berjualan menetap. Awalnya dengan warung tenda di Pasar Senggol (Pasar Burung sekarang) pada tahun 1983. Kemudian karena lokasi itu terkena proyek bangunan, lokasi berjualan diputuskan pindah ke tempat lain. Dengan pertimbangan mencari lokasi yang ramai pengunjungnya maka dipilihlah berjualan di belakang Bioskop President (Mitra 2 Departement Store sekarang). Itulah makanya usaha Beliau dinamakan Bakso President.
rate bintang 4

Soto Daging P. Markeso, Soto Gerobak Legendaris di Malang



Ada banyak tempat yang bisa dijadikan sebagai destinasi wisata kuliner di Kota Malang. Baik yang terkenal maupun gak ada yang kenal, baik tempatnya gede maupun cuma lesehan pinggir jalan, baik buka dari jaman tahun gak enak maupun yang baru aja buka tapi tunggu tahun depan. Kali ini saya bakal ngasih referensi nih buat kamu yang tinggal atau yang lagi singgah di Malang, terutama yang lagi bingung pengen makan apa hari ini atau mau sekedar wisata kuliner. Adalah "Soto Daging Pak Markeso" *aplause.

Seperti namanya, yang dijual pak markeso itu soto daging. Jadi kalo kamu mau nyari soto ayam caranya kamu tangkap ayam sendiri di deket kamu lalu kamu kasih ke pak markeso bisa gak dia masakin ayam buat dijadiin soto ayam. kalo gak bisa, apalagi udah terlanjur ditangkep yaudah kasih ke KFC aja, terus minta KFC bikinkan soto ayam. Oke kembali ke kipot, eh topik maksudnya, Soto daging yang dijual itu termasuk "soto duro", artinya soto khas Madura (boso inggris'e madura iku yo meduro/duro) dengan taste dan selera khas "meduro ta'iyeh". Kebetulan tadi pas pulang ngampus di UB sama temen dikasih referensi soto daging, karena penasaran belum pernah kesana akhirnya berangkatlah kita.

Oke langsung aja apalagi yang baca udah pada ngiler, tempat gerobak Soto Dagingnya Pak Markeso ini berada di Jl. Sindoro. Gak jauh dari Jalan Ijen kok. Buat yang gak tau arahnya langsung cekidot :





























Kalau kamu dari UB, atau UM, ITN, Matos, pokoknya dari daerah Sumbersari, kamu lewatin Jalan Bandung dulu ke arah timur, kemudian sampai di bundaran perempatan belok kanan masuk Jalan Terusan Ijen. Lurus masuk aja sampai ketemu jalan dua jalur Jalan Besar Ijen, kemudian lurus sebelum mentok di pertigaan lampu merah, ada jalan di sebelah kiri dan itulah Jalan Sindoro, tempat mangkalnya Pak Markeso bertempur melawan penjajah, eh, jual soto daging. Atau dari pertigaan Jalan Kawi dan Jalan Kawi Atas (terutama dari MOG), cukup masuk Jalan Besar Ijen aja kemudian belok turning area pertama sebelah kanan dan lurusnya langsung Jl. Sindoro.

Menurut yang nulis cerita ini sih, berhubung saya gak tau mana makanan enak atau gak enak jadi ya sama aja :D jadi tergantung selera masing-masing. Kalo kurang asin ya tinggal kasih garam. Kalo kurang asem ya cari pohon asem terdekat sendiri. Koya nya juga ada, ada telor asin, buat kerupuk lovers juga gak usah takut pasti ada kerupuk, kalo belum habis. Bahkan disediakan Aq*a juga.

Karena saya orangnya kepoan, tak tanya sama Pak Markeso tadi, udah berapa lama jualan disini pak? Jawabnya, wah udah dari tahun gak wenak mas. Udah lebih dari 50 tahun saya jualan di tempat ini. Udah lama kan? Mama sama bapak kamu udah lahir belom tuh? Bahkan mungkin dari jaman orang Belanda masih stay disitu makan soto dagingnya pak markeso itu ya tempatnya disitu-situ aja, dengan gerobaknya. Karena tempatnya di sekitar perumahan eks Belanda, Idjen Boulevard, jadi suasananya teduh banget kalo berteduh di bawah pohon. Tak jarang orang keturunan IT alias Indonesia-Tiongkok (Cina) yang makan disitu. Bahkan ada seorang Cina juga yang dateng bawa Subaru Impreza sedan warna putih makan disitu sekaligus bungkus bawa pulang ke rumah. Ya dagingnya lah, masa gerobaknya, atau pak markeso nya.

Soal harga? Katanya kalau soto daging semangkok + aq*a cuma 9 ribu doang. Kebetulan tadi saya beli soto campur+koya banyak+telor asin+sambel pedes+kerupuk+aq*a+mangkoknya,cuma 12 ribu doang. Hebat kan murahnya?

Jadi pantaslah dibilang Soto Daging Pak Markeso itu soto daging legendaris di Kota Malang.


Soto daging campur pak Markeso+Kerupuk, source Foursquare






















Suasana Soto daging pak markeso yang gue foto sendiri tadi.








Soto Babat Pak Mujianto, Desa Slorok, Kromengan, Kabupaten Malang

Sejak 25 tahun yang lalu, Soto Babat Pak Mujianto di Jalan Kali Biru, Desa Slorok, Kecamatan Kromengan ini menjadi favorit warga Malang Raya. Usaha yang dirintis oleh Mujianto dan istrinya, Musi’in ini punya ciri khusus, yakni babat (jeroan sapi bagian perut) berwarna hitam. Awalnya, banyak pelanggan yang merasa aneh tapi ternyata bikin mereka ketagihan. 
Berdiri sejak tahun 1990, Warung Soto Babat Pak Mujianto tetap eksis hingga saat ini. Pelanggan masih memburu makanan yang nikmat ketika disajikan dalam keadaan panas ini. Soto babat buatan Mujianto memang terkenal cita rasanya yang lezat. Warung soto milik Mujianto sudah dipercayakan pengelolaannya pada ketiga anaknya. Yakni, Luluk Ida, Bakti Riza Hidayat, dan Farid indiana.
”Sekarang kami yang meneruskan turut membantu menjual,” kata Bakti Riza Hidayat, anak kedua Mujianto. Bakti mengatakan, usaha dibangun mulai dari nol oleh bapak dan Ibunya. Awalnya hanya berjualan keliling dengan media gerobak dorong yang bertutup terpal. Namun lambat laun, karena mempunyai rasa yang enak, usaha ini terus berkembang. ”Bapak dan ibu yang jual, ya masih menggunakan gerobak dorong dari kayu jelek,” kata dia.
Warung soto ini sudah bertempat permanen yakni berlokasi di ruangan berukuran sekitar 7×6 meter dengan enam pegawai. ”Sekarang sudah tidak perlu panas dan kehujanan lagi saat berjualan,” kata Bakti.
Rahasia usaha kuliner keluarga ini selain karena cita rasa, juga karena pelayanan dari sang pemilik. ”Yang penting adalah ulet dan ramah saja dengan semua pelanggan,” kata Bakti. Menurut dia, anggap semua pelanggan adalah saudara sehingga mereka tetap senang dan nyaman berkunjung ke tempatnya untuk makan. Jika sudah begitu, tambah dia, lebih lanjut orang akan sering datang ke tempat tersebut.
Dahulu usaha ini hanya melayani anak sekolah dan sang guru yang mengajar di SMK PGRI Kromengan. Ya maklum, usaha ini tidak jauh dari sekolah tersebut dan bertempat di jalur utama Malang menuju Gunung Kawi. Usaha berada di jalan Kali Biru Desa Slorok Kecamatan Kromengan. Namun, karena sudah terkenal lama, pelanggan lain pun bermunculan. ”Ada yang hingga saat ini berlangganan, sejak dahulu sampai sekarang,” kata Bakti.
Mulai dari kelas pekerja, guru, PNS, dan kadang wisatawan yang sering mampir setelah atau saat akan ke Gunung Kawi. Namun, yang fanatik hingga saat ini, juga ada di antaranya orang Denmark dan Amerika Serikat. ”Ada warga negara asing yang menikah dengan orang Kromengan, setiap kali di sini (Kromengan), pasti mampir ke sini,” ujar Bakti. Awalnya, lanjut Bakti, orang asing heran dengan soto babat buatan orang tuanya. Heran bukan karena rasa, namun karena babatnya yang hitam. ”Lho ini makanan apa kok hitam seperti ini,” kata Bakti menirukan orang asing tersebut. ”Namun, setelah merasakan rasa sotonya, orang asing tersebut ketagihan. Mereka (orang asing) heran karena rasanya. Dan hingga saat ini malah menjadi pelanggan tetap. Setiap kali ke Kromengan, mereka pasti menyempatkan untuk mampir,” kata Bakti.
Pelanggan lain pun tetap bertahan dan pelanggan baru bermunculan. Menurut Bakti, justru pelanggan lama ini yang senantiasa mengingatkan. ”Kadang diingatkan dengan pelanggan lama, eling zaman dahulu saat masih susah saat berjualan keliling mendorong gerobak,” kata Bakti menirukan pelanggan.
Dengan kata-kata tersebut, dia menjadi ingat bahwa pelanggan harus dijaga dan dihormati. Sehingga karena sering sekali ramai, hampir setiap hari buka. ”Karena ada pelanggan yang sering kecewa, mereka datang jauh-jauh kami tidak buka dan sudah habis,” tandas Bakti. Karena itulah, hingga saat ini, usaha kuliner keluarga ini tidak pernah libur. Di warung soto babat Mujianto, hanya libur dua hari saat Idul Fitri dan setelahnya
rate bintang 3,7

Warung Bang Leo, Kuliner Tradisional Khas Arema Jl Trunojoyo, Kecamatan Klojen

Mencari tempat berjualan yang strategis di pusat Kota Malang memang sangat sulit. Butuh uang banyak agar mendapat tempat yang tepat. Warung Bang Leo, salah satu warung makanan tradisional Arema, berusaha eksis meski berada di tempat yang sempit.

Nama warung Bang Leo sudah tidak asing lagi di telinga kalangan anggota Polres Malang Kota, karyawan Pemkot Malang, maupun RSSA (Rumah Sakit Dr Saiful Anwar) Malang. Warung makan yang mulai dirintis tahun 1986 ini sudah menjadi jujukan para anggota polisi dan pegawai pemerintah pada pagi maupun siang hari. Berbagai menu tradisional ala rumahan, tersedia di warung makan yang tidak begitu besar ini.
Awalnya, warung ini buka di depan Hotel Kartika Graha dan dirintis oleh Ningsih, 46, dan Leo Kailola, 61. Warga Jl Jagung Suprapto Gang III Kota Malang ini merintis usaha tersebut karena himpitan ekonomi. Kondisi ekonomi rumah tangga yang kurang, membuat Ningsih pun mencoba keterampilan memasaknya.
Belajar dari teman, saudara, dan tetangga, Ningsih pun berhasil membuat berbagai olahan yang menjadi andalan warung. Resep hasil kreativitas sendiri tersebut, dia coba sebagai modal untuk membuka warung makan.
Menu makanan yang disiapkan, mulai sayur sup, bening, sayur asem, urap, dan trancam. Sedangkan, lauknya disiapkan juga di antaranya tempe goreng, tahu, ayam kampung, dan ikan laut. Semua menu dimasak dan mulai buka pada pukul 09.00. ”Dulunya memang coba-coba. Hasilnya, mulai banyak yang berdatangan dan banyak pula yang terus datang hingga menjadi pelanggan,” beber Ningsih.
Mulai tahun 1986 hingga 1992, Ningsih pun mendapatkan banyak pelanggan. Mayoritas pelanggannya dari anggota Polres Malang Kota, pegawai RSSA Malang, pegawai bank, hingga pegawai hotel. Tidak sedikit para pelanggan tersebut memesan makanan yang disiapkan dalam bentuk bungkusan.
Jumlah pesanannya pun beragam. Mulai dari 50 bungkus hingga 500 bungkus. Tergantung pemesanan untuk acara dan kegiatan apa. Sebab, tidak jarang instansi pemerintah dan swasta tersebut sering mengadakan kegiatan yang membutuhkan nasi bungkus yang banyak.
Sejak saat itulah, Warung Bang Leo berkembang pesat. Pelanggan lama maupun baru pun berdatangan. Mereka hanya ingin menikmati makanan tradisional rumahan khas Arema. ”Namanya bondo nekad, menunya seadanya. Eh, ternyata itu yang disenangi,” terang Ningsih sambil tertawa.
Hingga tahun 1992, Ningsih pun diminta pindah karena lokasi yang digunakan untuk berjualan akan dipugar untuk pengembangan usaha. Saat itu, Leo dan Ningsih pun mencari tempat di Jl Brigjen Slamet Riyadi, yang sekarang menjadi Hotel Trio Indah II.
polisi-lapsus-kulinerDi lokasi tersebut, Ningsih hanya bertahan dua tahun lamanya. Pemilik tanah juga akan membangun lahan tersebut untuk kepentingan bisnis. Leo yang mengontrak tempat itu pun akhirnya harus kembali pindah di Jl Basuki Rachmad. ”Walau pindah, pelanggan saya tetap setia. Mungkin lidahnya sudah cocok dengan resep masakan saya,” jelas Ningsih.
Di lokasi Jl Basuki Rahmat tersebut, Ningsih pun akhirnya juga bertahan dua tahun dan harus pindah tempat. Akhirnya, Leo dan Ningsih mendapat tempat di Jl Trunojoyo. Di bangunan milik PT KAI tersebut, Leo kontrak setiap tahunnya.
Di tempat tersebut, Leo pun membangun usaha kuliner hingga kini. Para pelanggan pun masih tetap setia. Kini, pelanggan juga bertambah banyak. Hanya saja karena kekurangan tenaga, masakan yang disiapkan terbatas. Ningsih berusaha belanja hari ini, harus habis hari ini juga. ”Belanja hari ini, ya harus habis hari ini juga. Jadi, masakan akan selalu segar,” jelas Ningsih.
sumber jawa pos radar malang
rate bintang 4

Susu Telur Madu Jahe (STMJ) Pak Sentot

Minuman susu telur madu jahe (STMJ) di Kota Malang bisa jadi paling tua di Kota Malang. Sebab, minuman ini sudah eksis di Kota Malang sejak 1974. Hingga kini, setiap malam melayani sampai 300 gelas susu per harinya.
Suasana di STMJ Pak Sentot yang terletak di Jalan Bareng Gang 4 pada Rabu (15/4) malam, sekitar pukul 21.30 tampak ramai. Seperti tidak ada berhentinya kedatangan para pelanggan. Hilir mudik pelanggan yang keluar dan masuk di warung yang terletak di dalam mulut gang ini tidak pernah sepi. Setiap ada pelanggan yang keluar, selalu disertai dengan pelanggan yang masuk.
Apalagi suasananya setelah hujan, hawa dingin tentu sangat cocok jika dinikmati bersama dengan satu gelas besar susu hangat yang dipadukan dengan perasan jahe dan madu serta telur ayam kampung. Namun, jika tidak familier dengan minuman ini, bisa memesan susu segar dengan campuran sedikit gula dan madu asli.
Di depan warung yang didirikan oleh (alm) Warli Sentot dan kini dikelola oleh anak pertamanya alias generasi kedua, Leman Sidarta, 41, terdapat satu unit rombong yang digunakan untuk berjualan. Di samping rombong itu terdapat kompor gas dua tungku yang apinya seolah tidak pernah padam. Tak jauh dari tungku tersebut, terdapat panci lurik dengan daya tampung mencapai 40 liter yang  terlihat penuh. Di sisi lainnya, terdapat tungku api yang sudah tidak digunakan lagi, menandakan kejadulan dari minuman ini.
Saat wartawan koran ini datang ke Warung STMJ Pak Sentot, lokasi banyak didominasi oleh kaum laki-laki. ”Memang yang banyak beli di sini adalah para laki-laki. Kalau pascahujan deras, semakin banyak yang membeli,” terang Leman.
Leman berkisah, pada awalnya mendiang bapaknya berjualan STMJ pada malam hari di sekitar lokasi yang kini menjadi eks Warung Pecel Kawi. Ceritanya, Sentot mendapatkan lokasi di sana karena menumpang di tempat bosnya, yang merupakan juragan susu segar. ”Saya tidak tahu nama bos bapak. Namun yang jelas, saat pagi hari tempat itu digunakan untuk berdagang susu, kemudian pada malam hari baru digunakan untuk berjualan STMJ,” jelas laki-laki yang berpenampilan khas memakai topi pet ini.
Menurut Leman, bapaknya melalui STMJ ini bisa dikatakan sebagai salah satu orang yang memopulerkan minuman yang dipercaya mampu membuat peminumnya tidur nyenyak ini. ”Sebab, pada tahun segitu masih belum ada yang jual minuman seperti yang bapak jual,” terangnya.
Minuman ini, menurut Leman, merupakan salah satu hasil kreasi dari bapaknya yang kala itu masih menjadi karyawan di toko susu segar. ”Bapak ingin membuat susu menjadi lebih nikmat dan lain dari yang lainnya,” tambah dia.
Bapaknya membutuhkan waktu kurang lebih satu tahun untuk menemukan racikan STMJ yang pas. Mulai dari meramu susu dengan perbandingan komposisi gula, teknik mengocok telur, hingga dengan jenis madu yang digunakan. ”Resepnya bapak eksperimen cukup lama. Hingga sekarang saya masih mempertahankan resep yang beliau ciptakan,” urai dia.
Karena masih menjadi minuman yang tergolong baru pada tahun 1970-an, tidak heran jika dagangan Sentot tidak serta merta ramai. Mangkal di sekitar Jalan Kawi mulai tahun 1974 hingga 1980, baru mulai ramai pada tahun 1980-an. ”Banyak orang yang bertanya-tanya ini minuman apa. Apa enak susu dicampur dengan telur ayam kampung,” imbuh bapak dua anak ini.
Sempat berpindah tempat mulai dari Jalan Kawi, kawasan Simpang Kawi mulai tahun 1980 hingga 1983, sekarang STMJ Pak Sentot sudah eksis di Bareng Gang 4 hingga sekarang dan sudah membuka cabang di kawasan Stasiun Kotabaru. 

Ayam Panggang Mbak Sri Jl Tangkuban Parahu, Kota Malang sejak 1970

Berkah dari kesetiaan mengabdi kepada majikannya, Sri Handayani, 56, dipercaya total meneruskan usaha warung ayam panggang (Alm) Nyik Sun. Sri sejak usia 15 tahun memang sudah membantu meracik bumbu ayam panggang. Karena tidak memiliki anak, dia mewariskan usahanya dan terus bertahan hingga kini.
Lokasi warungnya tepat berada di depan pintu masuk Stadion Gajayana, Kota Malang. Dengan mudah calon pelanggan menemukan warung yang selalu ramai setiap harinya ini. Penampilan warungnya sama dengan penampilan dari warung pinggir jalan pada umumnya.
Warung ini beratap tenda berwarna biru dengan jumlah meja dan kursi hanya enam pasang yang selalu dijejali oleh pembeli. Namun, jika pelanggan ingin menyantap aneka kuliner dengan lebih santai dapat juga duduk dengan lesehan. Untuk areal lesehan disediakan di depan pintu masuk stadion.
Di etalase warung Mbak Sri ini, ada beraneka ragam masakan. Mulai dari ayam panggang yang menjadi primadona, sate usus sapi, usus ayam, ati ampela sapi, bebek panggang, bali tahu, dan telur, juga ada sayur urap. Di belakang etalase tampak lima pekerja dari warung ini yang semuanya laki-laki, tampak sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti.
kuliner Ayam Panggang Mbak Sri
Begitu juga dengan penerus ketiga dari warung ini, Abadi Sriono, 32. Abadi bertindak sebagai kasir yang menghitung pesanan semua pelanggan. ”Maaf baru bisa agak santai, dari tadi memang ramai,” jelasnya.
Abadi merupakan penerus ketiga dari Warung Mbak Sri. Dia bercerita, pada awalnya warung ini didirikan oleh Mak Nyik, majikan dari ibu Abadi, Sri Handayani, 56. ”Dulu ibu ikut memasak di Mak Nyik, sejak usia ibu 15 tahun,” cerita Abadi.
Sri sudah mengabdi kepada Mak Nyik alias Nyik Sun mulai dari tahun 1974. Saat itu, Sri mengabdi sebagai juru masak dari warung yang awalnya dikelola oleh Nyik Sun ini. Karena kepandaian dan keuletannya, tidak heran jika Sri dipercaya oleh Nyik Sun sebagai pemegang kunci rahasia dari resep legendarisnya. Menurut Abadi, berdasarkan cerita dari ibunya, hubungan antara Sri dengan Nyik Sun sangat dekat, kedekatannya bahkan melebihi saudara.
Bagaimana bisa Sri kemudian mengelola usaha warisan dari Nyik Sun ini? Abadi mengatakan, karena sudah menjadi orang kepercayaan dari Nyik Sun, maka ketika Mak Nyik sudah meninggal, usaha ini diwariskan kepada Sri. ”Nyik Sun tidak memiliki anak. Ibu saya adalah karyawan setia. Jadi ketika Nyik Sun meninggal tahun 1985, otomatis ibu saya yang meneruskan usaha ini,” jelas dia.
Pada mulanya kendati Nyik Sun sudah meninggal, Sri tetap meneruskan usaha kuliner yang awalnya berada di depan Kayutangan Gang 6. Namun, pada tahun 1990-an, sudah mulai berpindah tempat. Tepatnya di sekitar kolam renang dekat Stadion Gajayana. ”Dari 1995 berada di sana kemudian kami pindah lagi di sekitar stadion. Kemudian pada tahun 2005, kami menetap di lokasi yang sekarang,” beber laki-laki yang santai mengenakan kaus abu-abu ini, Rabu malam.
Warung ini buka cukup lama, yakni mulai dari pukul 17.00 hingga tengah malam, pukul 24.00. ”Setiap hari selalu buka,” tandas dia.
rate 4